Showing posts with label Smester 4. Show all posts
Showing posts with label Smester 4. Show all posts

Monday, October 12, 2009

Psychology of Communication (Saya adalah...)

“SAYA”

Nama saya adalah Rifqi Fuad. Saya lahir sekitar 20 tahun yang lalu tepatnya pada tanggal 5 Oktober 1989. Saya adalah anak kedua dari tiga bersaudara dari pasangan Ir.H. Fuad Zakaria dan Hj.Lina Machdalina, SH. Saya punya satu orang kakak laki – laki dan satu orang adik perempuan. Perpaduan darah Lampung dan Sunda lah yang membuat wajah kami terlihat seperti orang “Asia Timur” sekali, walaupun dari seluruh anggota keluarga saya, saya lah satu-satunya yang berkulit gelap. Status saya ketika menulis tugas ini ialah sedang single. Saat ini saya kuliah di London School of Public Relation dengan jurusan Marketing Communication. Saya memiliki hobby bermain musik, khususnya alat musik drum. Disamping itu saya merasa musik juga sudah menjadi bagian dari hidup saya, dan saya memiliki angan – angan agar suatu saat di musik saya juga bisa menghasilkan sebuah prestasi di dalam per-industrian musik tersebut.

Berikut ini ialah gambaran singkat tentang diri saya dari kelemahan, kelebihan, cita – cita dan apa yang saya lakukan untuk mencapai cita – cita tersebut.

“Tidak ada gading yang tak retak”. Perumpamaan ini menggambarkan saya selaku manusia normal yang tidak luput dari kekurangan dan kelemahan. Karena saya yakin tidak ada manusia yang sempuna. Hal ini lah yang membuat variasi dan keunikan dari tiap manusia sehingga kita bisa merasakan hidup yang lebih berwarna. Kelemahan utama yang saya rasakan di diri saya ialah saya seorang yang Ayal. Sering kali seakan saya menggampangkan suatu hal atau masalah sehingga saya sering ”lupa”an atau melewatkan hal yang penting dan biasanya selalu berujung dengan kepanik-an dan atau menyesal dikemudian hari. Hal ini menrut saya didasari oleh sifat dasar saya yang cukup Pemalas, sehingga tidak terlalu konsen bila menjalani sesuatu, hasilnya banyak hal yang saya lakukan dengan hasil yang saya rasa kurang maksimal. Terkadang sulit bagi saya untuk melawan rasa malas dalam melakukan kegiatan yang kurang mengguggah minat saya. Padahal saya yakin bila saya bisa menghadapi perasaan ini saya bisa melakukan segala sesuatu dengan lebih baik. Kedua, adalah Pemalu. Entah mengapa semenjak lulus SD sifat ini menggrogoti saya lebih kuat dari pada sebelumnya. Perasaan ”takut salah” yang saya alami sering membatasi totalitas kerja dari yang saya kerjakan. Sebagai mahasiswa LSPR dan calon penerus bangsa di era globalisasi ini seharusnya kelemahan ini harus mampu saya atasi agar mampu bersaing dengan jutaan orang yang berjuang dan bersaing untuk menggapai hidup yang layak dan mapan. Selain itu saya memiliki sifat Keras kepala yang mana jika saya tidak suka pada 1 hal, sulit untuk mengubah pendapat saya
Dari kelemahan – kelamahan yang sudah saya ceritakan diatas saya juga memiliki beberapa kelebihan. Seperti saya adalah orang yang mau Berusaha keras. Saya menyadari saya tidak memiliki suatu bakat murni pada satu hal tertentu, tapi saya yakin dengan berusaha keras saya juga dapat mengejar hal – hal yang saya cita – citakan. Karena menurut saya orang yang tidak berbakat bila mau berusaha keras maka bisa sebanding dengan yang memiliki bakat murni. Jika pada saat itu saya sudah menyukai 1 hal, maka saya akan bersungguh – sungguh dengan giat membuat hasil yang maximal untuk hal tersebut, dan juga saya akan selalu berusaha untuk bertanggung jawab terhadap apapun yang telah saya lakukan. Disamping itu menurut saya juga, saya adalah seorang yang peduli terhadap sekitar, terutama pada orang- orang terdekat saya. Dengan peduli terhadap sekitar, terkadang dalam beberapa hal saya dapat merasakan apa yang orang lain rasakan (tenggang rasa) baik dalam keadaan senang maupun susah, jadi jika saya melihat orang sekitar saya mengalami keseusahan, saya tidak akan segan – segan dalam menolongnya dan ikhlas tanpa mengharapkan imbalan apa-apa.

Dari TK saya merasa teman – teman saya sudah bisa bercerita tentang harapan dan cita – cita nya, sedangkan yang saya alami, saya justru tidak memiliki impian yang detail dan terarah seperti itu. Seiring berjalannya waktu, ketika SD ayah saya sering sekali menceritakan pengalamannya dan perjalanan hidup nya dari zaman sekolah hingga bekerja. Berhubung kami memiliki hobby dan interest yang serupa saya menyadari bahwa cerita tersebut membakar semangat saya untuk menjalani hal yang serupa dengan yang pernah dijalani oleh ayah saya. Saya sangat ingin bisa memaksimalkan hobby saya di bidang musik untuk terjun juga di industrinya sambil menjalani masa kuliah, setelah lulus baru lah saya ingin sekali fokus untuk berbisnis ,biarpun sampai saat ini bila ditanya detail saya belum bisa menjawab bisnis apa yang akan saya tekuni namun seiring berjalannya pengalaman dan wawasan saya yakin pikiran saya akan lebih terbuka dan bisa memfokuskan kepada apa yang akan saya kerjakan nanti.
Untuk menggapai cita – cita saya, sejak sekarang saya berusaha meningkatkan personal skill yang akan berguna untuk masa nanti seperti memperdalam skill dalam bermain musik serta wawasan dalam bermusik juga belajar dengan tekun di universitas agat dapat mengambil ilmu yang diharapkan dapat digunakan di kala kerja nanti.

Religion Instruction of Islam Assignment (Perasaan Benci yang Menjadi Cinta yang Tulus)

Perasaan Benci yang Menjadi Cinta yang Tulus

Ayah saya adalah seorang wiraswasta, namun dulunya iya adalah seorang musisi, tepatanya adalah pemain drum. Hobby nya dulu adalah bermain musik yang dijalani dengan serius sehingga menjadi salah satu profesi yang dijalaninya ketika dan sambil menjalani kuliahnya dulu. Sejak dulu ayah saya selalu berharapan agar anak – anaknya juga menyukai musik sepertinya. Beliau memaksa saya untuk terbiasa didalam studio, mendengarkan musik dan men “sekolah” musikan saya dari dulu. Pada awalnya saya tidak suka dengan semua itu karena beberapa alasan. Berikut ini adalah 2 hal yang menjadi alasan utama saya kenapa menjadi seperti itu.

Pertama, kurang lebih ketika saya berumur 5 tahun, saya untuk pertama kalinya merasakan kambuhnya penyakit kelainan jantung yang ternyata memang saya miliki. Semenjak itu daya tahan tubuh saya memang bisa dibilang tidak sekuat anak – anak lainnya. Dampaknya, setiap saya berada distudio atau mendengar sesuatu yang terlalu keras, jantung saya sering bereaksi lebih keras dan cepat secara tidak normal. Walaupun demikian, Ayah saya bermaksud membuat saya untuk terbiasa dengan keadaan tersebut, karena ayah saya selalu berpegang teguh pada suatu pepatah ”alah bisa karena biasa”(dengan izin dokter dahulu pastinya). Saya sangat memahami maksud dan tujuannya sangat baik tapi karena pada saat itu saya masih kecil dan memang terkadang lumayan sakit, jadi saya sering merasa sebal jika harus ikut Ayah saya ke studio. Kedua., ketika umur 7 tahun saya untuk pertama kalinya pula di ikutkan ke les piano. Pada dasarnya saya memang tidak suka dengan alat musik piano tapi keadaan itu ditambahkan pula dengan saya di les kan di guru yang sangat galak dan tidak sabaran, membuat saya sangat membenci musik pada saat itu. Keadaan ”ogah – ogah”an seperti ini saya lalui slama kurang lebih 7 tahun. Tapi semua itu tetap saya usahakan untuk berjalan untuk menyenangkan ayah saya sambil berharap semoga suatu saat paling tidak ada manfaatnya untuk saya nanti.


Pada ahirnya walaupun saya tetap tidak bisa bermain piano layaknya anak yang belajar serius selama 7 tahun, namun dari sini merupakan batu pijakan saya untuk memahami musik dan wawasannya dengan lebih mendalam. Ketika saya SMP baru lah saya tersadar, terbuka rasa suka saya terhadap musik. Walaupun pada saat itu bukan piano yang saya suka, melainkan drum seperti ayah saya. Bahkan awalnya Ayah saya melarang untuk saya belajar drum. Awalnya saya sempat bingun mengapa yang tadinya saya dipaksa untuk menyukai musik, dan ahirnya telah saya temui apa yang saya cari namun malah dilarang. Tapi dari perasaan benci akan larangan tersebut justru makin memacu saya untuk belajar secara otodidak, dan saya sangat –sangat mencintainya sampai sekarang. Saat ini saya merasa tidak bisa hidup tanpa musik dan drum. Akhirnya setelah ayah saya melihat perkembangan dan usaha saya namun beliau pun sekarang sangat mendukung, dan saya sangat – sangat bersyukur akan hal itu. Saya sangat berterima kasih untuk dulunya dipaksa untuk terbiasa dengan musik, dan paksaan tentang piano yang walaupun pada ahirnya saya tidak menjadi pemain piano yang cukup baik, namun banyak sekali pelajaran dasar – dasar bermusik yang bisa saya ambil dari situ.


Usaha Ayah saya untuk memaksakan hal – hal tersebut membuat saya sangat bersyukur, karena menurut saya, saya sangat beruntung telah mengalami semua ini. Dan hal yang bisa saya pelajari dari pengalaman saya saat ini ialah tidak ada sesuatu yang tidak bisa terjadi di dunia ini asalkan adanya usaha yang keras dan kemauan yang kuat. Bila semua itu telah dilakukan Allah pasti akan menunjukan jalan walaupun terkadang jalan itu terkesan samar ataupun membutuhkan waktu, tapi pasti ada makna di balik semua itu.Dan seandainya dari dulu saya tahu sebagaiman saya akan mencintai musik seperti sekarang, saya tidak akan menyia-nyiakan usaha yang telah dilakukan Ayah saya untuk menggapai mimpi ini.